Breaking News

Pengagum Misterius

Pengagum Misterius

 Embun masih menempel di dedaunan, mentari pagi mulai menampakkan dirinya. Seperti biasa, Dinda menuju halte bus yang tak seberapa jauh dari rumahnya. Untuk menuju halte bus, Dinda harus menempuh sekitar tiga ratus meter, ia harus melewati sebuah gang kecil, pemakaman dan dua buah toko kelontong. Dengan langkah cepat Dinda berjalan menyusuri gang yang berlumpur itu. Sesekali ia melirik jam tangannya.

 Hari ini hari senin, upacara bendera pastinya. Untung saja busnya cepat datang. Jadi dia tak perlu menunggu berlama-lama. Dinda setengah berlari menuju pintu gerbang sekolah. Huh… untung nggak telat. Keringat mengalir di keningnya. Dinda cepat-cepat menuju kelas menaruh tas. Kemudian berlari ke lapangan dimana teman-temannya berkumpul. Hari ini ia dapat tugas jadi paduan suara.

 “kenapa baru datang Din”, Tanya Qicha temannya.
“tadi aku kesiangan. Semalem nggak tidur ngerjain tugas”, terangnya sambil ngos-ngosan.
“tugas yang mana”, Kata Qicha sambil menyipitkan mata karena silau.
“siklus akuntansi dari Bu Kanti”, terangnya. Qicha hanya mengangguk-angguk

 Dinda sekolah di SMKN 1, ia mengambil jurusan akuntansi. Jika ditanya mengapa ia lebih memilih sekolah kejuruan, katanya sih kalau lulus nanti pengen langsung kerja biar bisa bantu ibu. Ia masih kelas sepuluh, semester dua.

 Akhirnya upacara pagi itu usai juga. Dinda dan Qicha memasuki kelas. Sesaat ia akan duduk, perhatiannya terhenti pada sebuah kertas di mejanya. Kertas biru muda yang di atasnya tertindih setangkai mawar putih itu hanya dilipat menjadi dua. Dinda mengambil dan membacanya. “senyummu adalah hidupku” begitu isi surat tersebut. Tapi Dinda sudah tak heran lagi. ia sudah sering mendapatkan surat yang tak jelas siapa pengirimnya itu.

 “dapat surat lagi ya Din”, Ujar Qicha dengan senyum kecil di wajahnya.
“ia Cha. Aku heran siapa sih yang nulis surat ini”, Kata Dinda sedikit dongkol.
“udah, biarin aja. seharusnya kamu bangga dong punya penggemar rahasia”, nasehat Qicha.
“awalnya sih emang iya. Tapi lama-lama aku risih juga. rasanya kayak di terror gitu”, terang Dinda.
“ya nggak lah Din, kan isinya bukan ancaman. Cuma ungkapan hati doang kok”, sangkal Qicha mencoba menenangkan hati sahabatnya itu.
“eh, gimana kalau kamu cari tau siapa pengirimnya itu”, saran Qicha.
“pengennya sih iya. Tapi gimana caranya”, Tanya Dinda sambil mengerutkan kening.
“kamu kan dapat surat ini setiap hari. Jadi otomatis cowok yang ngirimin kamu surat juga datang setiap hari”, Celoteh Qicha sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya.
“ehm, iya juga ya. Kenapa aku nggak kepikiran. Jadi maksud kamu aku harus nyelidikin siapa yang datang setiap hari buat naruh surat itu”, Tanya Dinda.
“bener banget. Mending besok kamu datang pagi-pagi. Ntar kita pergokin aja tu orang. Gimana”, kata Qicha sambil mengangkat satu alisnya. Dinda mengerdipkan satu matanya, tanda setuju.

 Sejak satu minggu setelah MOS, Dinda setiap hari mendapat surat yang tak jelas asal usulnya itu. Ia heran kenapa tu cowok nggak bilang langsung aja ya, apa mungkin dia malu. Masa pakai surat sih, jadul banget. Hey, tunggu! ia melupakan sesuatu. Bukannya di bawah surat selalu ada tulisan “TW”. Apa maksudnya ya, apa mungkin inisial nama cowok itu. Tapi siapa TW. Dinda mencoba berpikir keras. Hah.. sudah lah jadi pusing sendiri mikirin tu surat.

Pagi-pagi sekali Dinda dan Qicha datang ke sekolah. Gerbang masih tertutup rapat. Dinda dan Qicha memanggil-manggil mang Ujang, tukang kebun sekolah itu. Sambil membenarkan sarung, mang Ujang membuka pintu gerbang. Mang Ujang heran kenapa mereka datang sepagi ini. Buru-buru Dinda dan Qicha memasuki gerbang. Mereka setengah berlari menuju kelas. Dinda menghampiri bangkunya. Dan ternyata… surat biru serta mawar putih telah ada di mejanya. Dinda mendengus kesal. Qicha pun terkejut.
“ya, kita keduluan deh. Padahalkan ini masih jam lima. Gilaaa, kapan dia kesininya ya”, celetuk Qicha.
Dinda tak menjawab. Ia merenggut surat itu dengan lemas. Tertulis dalam surat itu “aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Aku tak kan pernah bisa berada di dekatmu. Kau seperti bintang yang sangat sulit kuraih”. Membaca pesan singkat itu Dinda semakin kesal. Huh, apa sih maksud tu cowok.
“nyebelin banget sih ni cowok”, sungutnya.
“sabar Din. Kayaknya dia naruh tu surat nggak waktu pagi deh. Mungkin aja sepulang sekolah. Gimana kalau ntar pulang sekolah, kita jangan pulang dulu. Kita tunggu dulu tu cowok”, Kata Qicha. Dinda hanya mengangguk pasrah.
“Cha, liat deh. Dia selalu nyantumin TW. Apa artinya ya, apa mungkin itu inisialnya”, Tanya Dinda dengan heran.
“mungkin aja. Tapi siapa ya”, Qicha mencoba berpikir.
“hah… Jangan-jangan Timo Wijaya”, tebak Qicha.
“aduh, jangan sampai deh. Kamu yang bener aja dong. Masa dia sih”, eluh Dinda sambil menepuk keningnya. Timo, cowok yang terkenal norak abis itu. Apalagi model rambutnya yang nge-bob. Kayak personilnya the-changcuters.
“nggak mungkin”, ujar Dinda.
“apanya yang nggak mungkin Din”, celetuk seseorang tiba-tiba.
“Joddy”, Dinda kaget. Joddy tersenyum kecil. Cowok ini adalah satu-satunya cowok yang care banget sama Dinda. Lesung pipit dan Tubuhnya yang jangkung itu, membuat banyak cewek suka padanya.
“oow, aku tau. Pasti karena surat misterius itu lagi ya”, tebak Joddy. Dinda mengangguk lemah. Sempat terlintas di benaknya, jangan-jangan cowok misterius itu… Joddy. Tapi nggak mungkin, jelas-jelas di surat itu tertulis TW. Harusnya JW dong, Joddy Wiryanto. Aaarrrghh… tambah pusing aja.

 Hari ini seusai ekskul Bahasa. Mandarin, Dinda tak langsung pulang. Ia masih menunggu Qicha. Temannya itu sedang ekskul taekwondo. Joddy juga nggak pulang. Hari ini dia ada ekskul basket. Setiap hari selasa, jadwal ekskul mereka barengan. Lagian dia juga nunggu cowok misterius itu. Dinda duduk di sebuah bangku. Ia memandangi anak-anak basket yang sedang latihan. Joddy melihatnya, ia melambaikan tangan. Dinda hanya membalas dengan senyum. Joddy sedang bercengkrama dengan seseorang. Seseorang itu adalah Tora. Cowok kelas sepuluh multimedia itu, sedikit lebih cakep di banding Joddy. Ia juga tak kalah jangkung dengan Joddy kulitnya sedikit lebih cerah, dan hidungnya yang satu meter itu, bikin cewek yang melihatnya langsung klepek-klepek. (ceileh). Joddy dan Tora sudah sahabatan sejak smp. Keduanya sama-sama keren. Cuma yang membedakan Tora jauh lebih cuek, sedangkan Joddy dia begitu baik, dan ramah.

 Fikiran Dinda melayang. Andai saja Tora nembak dia. Dia pasti bakalan jadi cewek yang paling beruntung di dunia ini. Glekk!!. ah… nggak mungkin. Mana mungkin Tora suka sama dia. Dia kan cewek biasa-biasa. Natasya aja, yang jauh lebih cantik darinya nggak pernah di lirik sama Tora, apalagi dia. Hufth…!

 “hey, udah lama nunggunya ya”, Tanya Qicha tiba-tiba.
“iya nih. Eh, apa bener tu cowok bakalan naruh suratnya sekarang”, Dinda balik bertanya.
“kayaknya sih dia bakalan datang. Udah kamu tenang aja, mending kita ke kelas yuk.”, Qicha meyakinkan. Mereka berjalan beriringan ke kelas. Tapi Dinda tak menemukan surat itu. Jam sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh. Cowok misterius itu, tak datang juga. Dengan kecewa, Dinda dan Qicha pulang ke rumah. Karena rumah mereka berlawanan arah, mereka harus berpisah di halte bus.

 

“hey, Din. Lagi nunggu Bus ya”, Tanya Joddy tiba-tiba. Dinda menoleh.
“iya nih”, jawabnya. Kali ini Joddy nggak sendirian, ia bersama Tora. Tumben banget Tora naik bus, kemana motornya ya. Beberapa minggu terakhir ini, Tora sering banget naik bus. Nggak seperti biasa jantung Dinda berdetak lebih cepat, ia jadi gugup. Tora begitu keren, peluhnya menetes di pelipis mata. Tapi dia cuek-cuek aja tuh. Dinda sadar diri, nggak mungkin banget Tora suka sama dia. Bus yang di tunggu sudah datang, ketiganya masuk ke dalam bus.

Dinda mendapat surat lagi. “aku semakin yakin, kita tak kan bisa bersatu. Simpanlah semua kenangan ini. Jangan lupakan AKU”, Dinda benar-benar tak mengerti. Tapi ya sudah lah, mungkin suatu saat ia akan mengetahui semua kejelasan ini. Dinda tak pernah membuang kertas dan bunga mawar putih itu, walaupun sudah layu. Ia masih menyimpannya.

Satu minggu terakhir ini Joddy sering sendirian. Kemana Tora ya, apa mungkin mereka bertengkar. Tapi Dinda juga tak pernah melihat Tora. Apa mungkin Tora sakit. Ah tau lah.
“Din, sebenarnya aku pengen ngomong sesuatu sama kamu”, kata Joddy tiba-tiba.
“ya udah ngomong aja”, ucap Dinda dengan senyum ramahnya. Joddy menatap lekat-lekat mata Dinda. Memang akhir-akhir ini Dinda merasa ada sesuatu yang disembunyikan Joddy. Wajahnya begitu kalut.
“Din, sebenarnya yang naruh surat itu… AKU”, telinga Dinda seperti disambar petir. Ternyata dugaanya selama ini benar. Joddy lah pengagum misterius itu. Dinda tak berucap apa-apa lidahnya keluh. Tega banget Joddy mengkhianati persahabatan mereka.
“kamu jangan salah paham dulu. Memang aku yang menaruh surat itu. Tapi bukan aku yang nulis”, Dinda tersentak kaget.
“terus siapa yang nulis”, Tanya Dinda.
“sebenarnya… Sebenarnya”, Joddy tergagap.
“ayo Jod, bilang sama aku siapa yang nulis”, Dinda semakin penasaran.
“sebenarnya yang nulis surat itu… Tora”, ujar Joddy. Dinda terkejut, ia benar-benar tak menyangka. Antara senang dan heran bercampur jadi satu. Dinda tak percaya.
“nggak. Nggak mungkin Jod, kalau emang benar dia. Kenapa dia nggak ngomong langsung sama aku. Bahkan setiap kita bertemu, dia cuek-cuek aja kok”, Dinda menyangkal.
“Din, itu bener. Tora sengaja ngelakuin itu. Karena dia nggak pengen kamu sedih. Sebenarnya Tora juga nggak ngebolehin aku ngasih tau kamu”, terang Joddy, berusaha meyakinkan.
“Jod, justru cara dia yang kayak gini bikin aku sedih. Kenapa sih dia ngelakuin ini, apa dia sengaja ingin mempermainkan aku”, geram Dinda. Ia sekarang benar-benar marah.
“nggak Din. Sebenarnya dia juga nggak pengen ngelakuin ini semua. Dia terpaksa ngelakuin ini. Ini demi kamu”, lanjut Joddy.
“aku semakin nggak ngerti. Dari tadi kamu bilang, Tora nggak mau aku sedih, semua yang dia lakukan demi aku. Maksud kamu apa sih. Ada apa sama Tora”, Dinda bingung sendiri.
“sebenarnya Tora sakit Din, dia sakit keras”, mata Dinda membelalak.
“Tora sakit, dia sakit apa Jod”, Dinda menatap Joddy, mata Joddy memerah.
“dia kena kanker otak Din, sudah stadium akhir”, Joddy menunduk.
“apa!!! kanker otak. Jod, masalah sebesar ini kenapa kamu nggak bilang sih sama aku. Kamu jahat banget Jod. Kamu sengaja nutupin ini semua dari aku”, Dinda mulai menangis.
“Din, sebenarnya aku pengen banget ngomong ini sama kamu dari dulu. Tapi Tora ngelarang aku. Kamu tau nggak dia sengaja cuekin kamu, karna dia nggak pengen ngasih harapan ke kamu. Dia takut banget kamu sedih. Sebenarnya dia sendiri juga nggak tahan harus nyuekin kamu. Dia tersiksa Din, dia tersiksa banget. Dia juga pernah nangis di depanku. Dia bilang dia nggak tega ngeliat kamu. Akhir-akhir ini dia nggak bawa motor dan milih naik bus. Kamu tau kenapa, Tora ngelakuin itu semua Cuma karena pengen liat kamu. Dia pengen liat kamu lebih lama. Dan asal kamu tau Din, setiap pulang sekolah dia selalu nyempetin beli mawar putih. Karena dia tau kamu suka banget sama bunga itu. Mungkin kamu juga nggak sadar, diam-diam dia foto kamu. Dia bilang kalau dia lagi kangen sama kamu, nggak perlu ketemu. Tora punya banyak banget koleksi foto kamu, kalau kamu nggak percaya aku bisa bawain. Setiap hari dia selalu nanyain kabar kamu. Dia selalu bilang sama aku, aku harus jagain kamu, ngelindungi kamu, menghibur kamu kalau lagi sedih. Dia nggak mau kamu kenapa-napa”, airmata Dinda mengalir deras. Dia tak menyangka begitu tersiksanya Tora. Dinda menangis sesenggukan.
“Din, Tora nitipin ini buat kamu”, Joddy menyodorkan secarik kertas. Tanpa basa-basi Dinda membacanya.

To : Dinda
Din, mungkin kita nggak pernah kenal. mungkin kamu juga nggak tau siapa aku. Tapi harus kamu tau, aku sayang sama kamu. mungkin saat kamu membaca surat ini, aku udah pergi. Pergi jauh… dan tak kan kembali. Kamu pasti bingung, kenapa akhir-akhir ini kamu dapat surat yang nggak jelas pengirimnya. Hehehe. Maaf ya, udah bikin kamu bingung. Semua surat itu, aku yang buat Din. Agak gombal ya, tapi emang itu yang aku rasain. Sebenarnya aku pengen banget ngomong ini sama kamu, cuma waktu nggak ngizinin aku. Kamu tau nggak, aku udah suka sama kamu sejak kita pertama kali bertemu. Waktu itu kamu lari-lari karena takut telat, terus nabrak aku. Jadinya aku marah-marah deh. Waktu itu kamu lucu banget lho. Mungkin kamu udah lupa sama kejadian itu. Tapi aku nggak akan pernah lupain semua kenangan tentang kamu. aku akan jadiin itu semua kenangan terindah dalam sisa hidupku. Din, sebenarnya aku masih pengen banget ngobrol banyak sama kamu, tapi kepala aku sakit nih. Udah dulu ya. Ternyata Tuhan nggak ngizinin kita bersatu di kehidupan sekarang. Aku akan nunggu kamu di kehidupan kedua nanti. bye Din, baik-baik ya. Love you…!!!

Dinda menangis sejadi-jadinya. dia benar-benar terpukul. Oh… Tuhannn…! mengapa semua ini terjadi padanya.
“nggak Tora, aku nggak pernah lupa sama semua kejadian yang mempertemukan kita. Semuanya sudah terlambat”, ujar Dinda dalam sela-sela tangisnya.
“nggak Din, masih belum terlambat. Tora belum pergi. Ia memang menyuruhku ngasih surat itu, setelah dia pergi. Tapi aku nggak tega sama dia. Aku pengen ngelakuin sesuatu yang buat dia bahagia di sisa akhir hidupnya”, jelas Joddy.
“hah, jadi sekarang Tora masih hidup. Dia dimana, Joddy anterin aku kesana”, Dinda senang, ia bersemangat kembali. joddy mengangguk. 

Karena masih waktu sekolah, Dinda dan Joddy minta izin. Dinda pura-pura sakit dan Joddy yang akan mengantarnya pulang. Mereka berdua pun terbebas dari sekolah, dan sekarang menuju rumah sakit. 

Mereka setengah berlari. Saat sampai di depan kamar Tora, Dinda dan Joddy berhenti. Mereka melihat kedua orang tua Tora menangis di luar kamar.
“ada apa ini tante”, ucap Joddy dengan nada gemetar. Kedua orang tua Tora tak menjawab, mereka masih larut dalam kesedihan.
Dinda tak menunggu Joddy, ia langsung masuk ke ruang inap Tora. Tora terbaring di ranjangnya. Tubuhya semakin kurus, kulitnya sangat pucat. Dokter sedang sibuk mencoba memberi pertolongan pada Tora. Dinda menangis, ia menghampiri Tora yang sedang terbaring dengan mata terpejam.
“Tora harus kuat ya, Tora ini Dinda. Tora bangun, Tora harus kuat. Dinda sayang Tora”, bisik Dinda di telinga Tora. Dinda memegang erat tangan Tora. Berkali-kali ia ciumi tangan Tora.
Dokter berusaha menyelamatkan nyawa Tora, tapi respon negatif.
“Tora, Dinda yakin Tora dengar suara Dinda. Tora, ayo Tora bangun”, teriak Dinda di telinga Tora. Joddy juga berusaha ikut membangunkan Tora. Dokter masih tetap berusaha. Dan akhirnya respon positif. Perlahan-lahan tangan Tora bergerak. Dan kemudian Tora membuka mata.
“Tora”, senyum Dinda mengembang. Dokter tersenyum senang. Ternyata kehadiran Dinda sangat membantu.
“Diin…da. jod…ddy. Kalian beber..dua ngappaiin kees..ssini”, ucap Tora terbata-bata.
“aku kesini cuma mau bilang kalau aku juga sayang sama kamu”, Tora tersenyum, matanya memandang lemah.
“Din, makasih ya buat semuanya”, ujar Tora. Dinda membelai rambut Tora, kemudian mencium keningnya. Ia merebahkan kepalanya di atas dada Tora sambil meneteskan air mata. Dinda mendekap tubuh Tora.
“Tora, aku mohon kamu yang kuat ya. Aku nggak ingin kehilangan kamu”, ujar Dinda.
“sebenarnya aku juga ingin seperti itu. Tapi aku nggak sanggup melawan takdir. Aku udah nggak kuat lagi. kamu tenang aja, biarpun aku nanti pergi. Rasa ini, nggak akan pernah mati”, ucap Tora. Kini ia menoleh ke Joddy yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
“Joddy, aku ingin kamu berjanji. Kamu akan selalu jagain Dinda buat aku. Aku udah nggak punya banyak waktu lagi”, kata Tora dengan senyum di wajahnya.
“kamu nggak boleh ngomong gitu Ra, kamu harus yakin kalau kamu bakalan sembuh”, tolak Joddy.
“ngg…gak. Aaku maa maa u kakamu berrjanji sekarang”, ucap Tora mulai terbata-bata.
“nggak Tora aku nggak bisa ngelakuin ini”, Joddy tetap menolak.
“Tora, kamu nggak boleh gomong gitu. Kamu harus yakin, kamu pasti bisa sembuh”, ujar Dinda. Tapi nafas Tora sudah tersenggal-senggal.
“kamu maukan jannji saa maa ak aku”, permintaan Tora yang terakhir.
“Tora, Tora kamu kenapa. Kamu harus kuat. Aku janji, aku bakalan jagain Dinda. Tapi kamu harus sembuh”, Joddy memegang erat tangan Tora. Dinda tak mampu berucap apa-apa. Lidahnya keluh, ia hanya menangis sambil merengkuh tubuh Tora.
“aku peer ca ya sa ma ka mu Jod dy. Kaamu pas ti bisa meenjagaa Diinda. Din haarus kamu taaa u akuu aakkan sse llaalu saa yang saama kaamu”, Dinda berteriak-teriak memanggil nama Tora. Joddy pun juga. namun Tora telah menghembuskan napas terakhir. Mata Tora telah terpejam, tapi bibirnya tetap tersenyum. Tora telah pergi dengan kedamaian di wajahnya.

TAMAT
  

Tidak ada komentar