Breaking News

Rindu yang Tak Pernah Sampai

Rindu yang Tak Pernah Sampai

 Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 24 July 2018

 Malam yang begitu sunyi dan damai. Hatiku berdebar menanti kepulanganmu. Aku rindu kepadamu, Kak. Aku sudah tidak bisa membendung rinduku lagi. Namun aku sudah tahu, rindu ini tidak akan pernah sampai kepada kau yang saat ini.

Salam rindu dari adikmu yang manis ini, Kakak.

Dingin sekali malam ini. Angin bertiup dengan lantunan sunyi dan damai. Bintang-bintang sebagian bersembunyi di balik awan tebal. Bulan purnama melingkar indah melayang di angkasa beserta cahaya temaram yang selalu menyertainya. 

uresapi aroma cokelat hangat dalam gelas di genggaman tanganku, setelahnya kusesap cairan manis tersebut sedikit. Rasa yang begitu manis menyeruak masuk memanjakan lidahku, menukik ke dalam rongga dalam tubuhku, lalu menyebarkan sensasi menyegarkan ke seluruh tubuhku dan membuatku merasa lebih baik serta tidak kedinginan seperti sebelumnya. Kuletakkan cokelat hangat yang sudah habis setengah gelas di dekat jendela kamar. Perhatianku dialihkan oleh dering pesan di sebelah tempatku duduk sekarang. Aku menatap layar ponsel pintar berhias stiker Doraemon. Oh, dari kakak! 

‘Nad, malam ini Kakak pulang. Kabarin ke bapak sama ibu ya sayang.’ tulisnya lewat aplikasi Whatsapp. 

Senyum merekah di bibir tipis mungilku. Aku menyentuh layar, lalu mengetik dengan cepat dan semangat di layar touchscreen tersebut. 

‘Wah, beneran Kak? Sudah sampai mana? Kok enggak ngasih kabar lebih awal sih! Kakak hati-hati di jalan. Aku kangen banget sama Kakak!’

Beberapa detik kemudian balasan dari kakak kembali masuk ke pemberitahuan, muncul di layar paling atas.
‘Haha. Surprise buat kamu. Jangan ke Kakak. Harusnya kamu ngomong ke pak sopir tuh dan kasih semangat biar nggak ngantuk.’ kelakar kakak disertai emoji yang menunjukkan bahwa dia sedang bahagia.

‘Haha. Kakak yang ngomong gih ke pak Sopir. Oiya, kalau sudah di rumah Kakak harus jalan-jalan sama Nadia sampai puas. Ya, yaa? Harus iya! Udah kangen banget nih sama Kakak.’ 

  Tanpa sengaja aku menjatuhkan gelas berisi cokelat hangat ke luar jendela. Gelas tersebut pecah berkeping-keping di dekat bunga mawar dekat kamarku. Cairan cokelat manis itu menghambur ke segala arah karena sudah tidak ada lagi wadah yang menampungnya, mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tentu saja karena hal tersebut aku terkejut dan secara spontan menjatuhkan ponsel pintarku ke kasur.

“Duh. Ibu pasti marah nih.”

Sekejap angin malam berhembus pelan memasuki kamarku. Meniup tengkukku perlahan sehingga membuatku agak merinding. Cepat-cepat aku menutup jendela kamar dan tirai biru bergambar Doraemon. Setelahnya aku kembali mengambil ponsel pintarku. Belum ada balasan chat dari kakak. Perasaanku kok jadi tidak enak, ya. Apa kakak sudah tidur, ya? Oh. Mungkin iya kali. Kelelahan atau apapun itu alasannya. Uuuh. Aku benar-benar rindu kakak. 

Malam semakin larut. Mataku mulai terasa berat. Secara perlahan mataku mulai tertutup menuju ke alam mimpi. Kesadaranku telah hilang sepenuhnya.

  Sekitar jam dua aku bangun karena kaget oleh dering telepon dari ponsel pintarku. Dengan gerakan yang memiliki kesan malas aku mengangkat telepon entah dari siapa.

“Assalamu’alaikum. Dengan siapa, ya? Masih sepagi ini telepon. Mengganggu orang tidur saja.”
“Wa’alaikumsalam. Sebelumnya kami minta maaf, apakah benar ini dari Keluarga Rian Febrian? Kami dari Rumah Sakit Siaga Medika Banyumas mengabarkan bahwa saudara Anda telah mengalami kecelakaan di dekat alun-alun Banyumas.”
Saat itu juga kesadaranku seketika berfungsi siaga satu.

“Jangan bercanda, hei!”
“Kami benar-benar dari pihak Rumah Sakit Siaga Medika Banyumas. Mohon keluarga segera konfirmasi ke rumah sakit.”
“Bagaimana keadaan kak Rian, Bu? Dia baik-baik saja, ‘kan? Dia tidak kenapa-napa, ‘kan?”
“Keadaan saudara Rian akan kami jelaskan setelah keluarga konfirmasi ke sini. Terima kasih. Wassalamu’alaikum.”
Telepon diputus dari pihak rumah sakit. 

Aku berlari ke kamar bapak dan ibu. Menggedor-gedor dan memanggil berteriak panik memanggil mereka. “PAK, BU. KAK RIAN KECELAKAAN. BANGUN, PAK, IBUUU!!!” 

Sekitar pukul 10 pagi, jenazah kakak dikuburkan dengan layak diiringi sendu dan tangis kami yang masih belum percaya dia meninggalkan kami secepat ini. 

Ya Allah, semoga kak Rian tenang dan damai bersama pangkuan-Mu.

  Selesai.

Tidak ada komentar