Breaking News

Karena Hujanlah yang Menyatukan Kita

Karena Hujanlah yang Menyatukan Kita

Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran usai, aku segera bergegas membereskan alat-alat tulisku dan memasukkannya ke tas. Aku keluar kelas dengan langkah terburu-buru karena cuaca hari ini mendung tanda hujan segera turun. Betapa malangnya nasibku karena sopir ku belum datang menjemputku, dan pada akhirnya gerimis pun datang dan beberapa menit kemudian berubah menjadi hujan yang cukup deras. Aku segera berlari ke halte bis untuk berteduh, dan seragamku basah sedikit, aku tak membawa jaket untuk melindungiku dari kedinginan, hari ini sungguh benar-benar menyebalkan!

20 menit aku menunggu jemputan yang tak kunjung datang, tapi kemudian datang seorang cowok yang seragamnya sudah basah kuyup terkena basahan hujan dan duduk di sampingku. Suasana hening pun terasa, hanya terdengar suara gemericik hujan yang jatuh ke tanah. Aku masih menahan dingin yang menusuk tulangku, tanpa disadari cowok yang berada di sebelahku mengajakku ngobrol dan berkenalan dengannya.

 Ya.. namanya adalah Aldi Putra Laksana, dia kerap disapa Aldi anak SMA Nusa Bangsa yang lokasinya tak jauh dari sekolahku, SMA Nusantara. Ternyata dia juga kehujanan karena mencari tempat untuk berteduh. Kami ngobrol dengan asyiknya dengan topik yang seru sambil menunggu hujan reda, kami menyukai hobi yang sama yaitu Basket. hmm.. cowok ini asyik juga, dia ternyata kapten tim basket di sekolahnya, sama sepertiku.

 1 jam kemudian mobil jemputanku datang, kami harus mengakhiri perbincangan dan pertemuan ini, aku berharap bisa bertemu dan ngobrol dengannya lagi. Aku segera masuk ke mobil lalu membuka kaca mobilku untuk melambaikan tanganku ke arahnya dan mengucapkan selamat tinggal.

 Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa dengan mobil jemputanku, tapi di tengah perjalanan mobilku berhenti tiba-tiba, segera sopir ku mengecek mesinnya dan ternyata mobil mogok, hissh.. pagi pagi gini sudah apes banget nasibku, dengan terpaksa aku harus berjalan kaki untuk sampai di sekolah untung saja jarak sekolah sudah hampir dekat. Dan yang lebih menguntungkan lagi, ada cowok yang tak lain adalah Aldi menghampiriku dengan motor sportnya. Dia menawarkan boncengan untukku sekalian berangkat sekolah bareng karena sekolah kita satu arah. Aku tak bisa menolak permintaan itu daripada capek-capek harus berjalan kaki di terik matahari yang mulai panas, haha. Permintaanku terkabulkan, aku bertemu dengannya lagi, dia memang cowok yang sangat baik.

 Sesampainya di sekolah, aku segera turun dari motornya dan mengucapkan terima kasih atas tumpangannya, aku pun segera masuk ke gerbang sekolah, namun dia mencegahku dan menarik tanganku, oh ternyata dia hanya ingjn meminta nomor hapeku, katanya supaya kita lebih akrab. Aku mengeluarkan secarik kertas plus pulpen dari tasku dan menuliskan nomor hapeku lalu kuberikan padanya.

 Saat jam isitirahat, aku menuju ke kantin untuk membeli sesuatu yang bisa dimakan. Ternyata nada dering nokia tune hapeku berbunyi tanda ada pesan masuk. Kubuka inbox hapeku yang ternyata dari aldi.

 ‘Nanti pulang sekolah aku jemput kamu ya, aku mau ngajak kamu makan siang bareng, gak papa kan?’ Aldi.

 ‘oke, aku tunggu di depan gerbang sekolah ya’. Langsung kukirim balasan pesanku untuk Aldi.

 Setelah pulang sekolah, Aldi sudah stand by di depan gerbang sekolah, aku menghampirinya lalu kami berangkat ke sebuah cafe. Sesampainya di cafe, aku dan Aldi segera memesan makanan kepada pelayan cafe. Kami pun mengobrol lagi membahas tentang sekolah, basket, teman sekolah, tanya-tanya tentang kepribadian kita masing-masing, dan lain lain. Pelayan cafe itu memberhentikan obrolan kami dengan membawa makanan pesanan kami. Siap santap!

 Setelah lunch selesai, Aldi mengantarku pulang ke rumah, aku kembali berterimakasih padanya. Dia hanya membalas dengan senyum manisnya. Aku segera masuk ke rumah. Obrolan kami berlanjut di sms, fb, twitter dan BBM. Entah sekarang Aldi telah meracuni pikiranku. Dia itu orangnya keren, baik, perhatian dan lucu. Aku selalu mengingat kejadian konyol bersamanya, perhatiannya terhadapku yang lebih dari seorang teman biasa. Aku selalu senyum-senyum sendiri jika membaca pesan sms/bbm darinya bahkan bertemu dengannya pun deg-degan. Masa iya aku suka sama Aldi? Entahlah aku bingung dengan perasaanku sendiri, ataukah Aldi juga merasakan hal yang sama juga denganku?

 Sampai pada suatu hari tumben sekali dia tidak memberi kabar apapun, sms, bbmku sering tidak dibalas, dia juga jarang terlihat di hadapanku, ada apa dengannya? mungkinkah dia marah kepadaku? Apa salahku sampai membuat dia marah? Ataukah dia sedang sakit? Beberapa pertanyaan negatif muncul di pikiranku. Mungkin pulang sekolah nanti aku harus ke rumahnya untuk melihat kondisi Aldi apakah dia baik-baik saja atau tidak.

 Setelah sampai di rumahnya, aku melihat tulisan di gerbangnya Rumah ini DISEGEL. Apa? Rumah sebagus ini disegel? Apa yang sebenarnya terjadi? Aldi dimanakah kamu?

 Hari berganti hari, minggu berganti minggu, sudah hampir 2 minggu lebih, Aldi tak memberi kabar sama sekali, aku sudah mencarinya ke sekolahnya, tapi pihak sekolah mengatakan kalau Aldi sudah tidak masuk selama 2 minggu yang lalu. Aku sangat khawatir sama kamu, aku kangen kamu Al, kamu dimana sekarang? aku kangen perhatianmu, kekonyolanmu, pokoknya kangen semua tentang kamu. Seandainya kamu disini, aku ingin kau tahu kalau aku sayang sama kamu. Tapi kenapa kamu ninggalin aku tanpa alasan yang jelas gini? Air mataku sedikit demi sedikit menetes di pipiku sambil menyusuri jalan menuju ke halte untuk menunggu jemputanku.

 Suara gemuruh petir mulai bersautan. Hujan kembali turun dengan derasnya, sungguh ini membuat rasa kangenku semakin menjadi-jadi kepada Aldi. Di halte inilah dengan suasana hujan yang syahdu mengingatkan pertemuanku dengan Aldi pertama kali. Air mataku mengalir deras seperti halnya hujan itu. Aku segera menghentikan tangisanku karena ada seseorang yang duduk di sampingku sambil menawarkan sapu tangannya untukku. Dan betapa terkejutnya aku, seseorang itu adalah Aldi! Langsung saja aku memeluknya erat-erat untuk melepaskan rasa kangenku terhadapnya, dia juga membalas pelukanku dengan hangat di tengah dinginnya hujan. Aldi melepaskan pelukanku, dan menghapus air mataku dengan sapu tangannya. “Kamu kemana aja sih Al? Udah 2 minggu lebih aku cari-cari kamu, kamu tau gak sih kalo aku tuh kangen kamu, jahat benget sih kamu” kataku dengan wajah cemberut.
“maafin aku shella, aku terpaksa ninggalin kamu karena… aku udah jatuh miskin, perusahaan ayahku mengalami kebangkrutan, aku takut dengan aku menjadi orang yang biasa kayak gini, kamu gak mau berteman lagi sama aku shel” katanya lirih.

 “Al, selama ini aku berteman sama kamu bukan karena kamu kaya, tapi karena kebaikan kamu selama ini sama aku, aku justru terimakasih sama Allah, karena telah mempertemukan kita tanpa sengaja. Mau gimana aja kondisi keluarga kamu, aku gak bakal menjauh darimu, karena aku takut kehilanganmu Al” kataku sambil menangis sesenggukan. “makasih ya shel, aku kesini cuman mau ketemu sama kamu, karena aku juga kangen sama kamu, dan aku feelingku benar kalo kamu pasti ada di sini, di tempat pertama kali kita bertemu” kata Aldi. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Aldi.

Di tengah hujan yang masih mengguyur, Aldi menarik tanganku dan mengajakku bermain hujan-hujanan. Kami sangat menikmati permainan konyol ini. Lalu aldi memegang tanganku “sekali-kali, kita perlu main di tengah hujan kayak gini, karena hujanlah yang menyatukan kita, aku sayang kamu shella” kata Aldi diiringi senyum manisnya. “apa? Aku gak denger Al, berisik nih gara-gara hujan” kataku dengan pura-pura tidak tahu. “Aku sayang kamu shella!” kata Aldi dengan suara yang cetar membahana. “haha.. dasar orang gila, teriak-teriak di jalanan, huhu” kataku sambil berlari meninggalkan Aldi. Lalu aku berhenti dan menoleh ke belakang melihat Aldi berdiam diri tanpa ekspresi. “hei Al ngapain bengong disitu, ayolah kita main hujan-hujanan lagi, aku juga sayang kamu kok, weeek” kataku sambil menjulurkan lidahku. “woy.. awas kamu ya, aku kejar lho” kata Aldi dengan riangnya.

Kami pun bermain hujan-hujanan sampai puas. Dan aku selalu bahagia saat hujan turun. Ya.. benar kata Aldi. Karena hujanlah yang menyatukanku dengannya 🙂

TAMAT
 

Tidak ada komentar